Relung Telinga


(dimuat dalam Koran Tempo)




Di relung telingamu, pernah kubisikkan kata-kata: Percayalah, aku akan selalu mencintaimu. Kemudian kutidurkan tubuhmu dengan kasih-sayang, juga kutiduri tubuhmu penuh kasih-sayang.

Kelembutan warna kamar, wangi sayup sedap malam, dan remang cahaya yang menawarkan candu asmara, membuat waktu terasa panjang. Kita bercinta seperti abad yang diseret perlahan, menuntaskan titik peluh di sekujur pori. Sesudah itu, berkali-kali kubisikkan di relung telingamu: Aku tak akan pernah melupakanmu.

Hampir aku menyebutmu Bunga, karena kutemukan dirimu di tengah lanskap taman yang asri. Mungkin bintangmu aquarius, selalu karib dengan guci di tangan, berjalan sabar di antara perdu dan pohon kembang, menyiramkan air seperti memberi minum anak-anaknya. Namun hampir pula kupanggil dirimu Bulan, sebab ada kemiripan antara wajahmu dengan bundar purnama. Kau mudah tersenyum, bahkan oleh lelucon sederhana. Pernah juga kubayangkan dirimu Gula, setelah berulangkali kuhisap manis rasa bibirmu. Engkau sedikit tersengal. Tampak dadamu naik-turun seperti ombak. Sesudahnya, kauhela nafas panjang dengan mata terpejam, dengan bulu mata bergetar.

Apakah kausimpan janjiku dalam relung telingamu? Aku menyediakan hidupku untukmu. Aku mencintaimu dan bekerja keras dengan perasaan riang. Jiwaku melepuh oleh cinta, dan seluruh hari yang kulalui adalah nyanyian. Rindu yang tak habis terperas. Kasih-sayang yang tak terhalang keterbatasan rahimmu. Melalui rangkaian pemeriksaan yang berlarut-larut, akhirnya inilah keputusan dokter: tak akan menetas seorang bayi melalui persetubuhan kita.

Bisa jadi, ada harapan yang tercerabut. Tapi, untaian malam yang berhias cahaya ranum lampu temaram, ikut mendengar selarik bisik dari bibirku, memasuki relung telingamu: Sampai kapan pun aku terus mencintaimu.

Itulah yang ingin kupatuhi bertahun-tahun. Engkau Bunga, Bulan, sekaligus Gula dalam hidupku. Impian panjang berlarat-larat, wangi hari yang terulur dari sumber fajar, mata-air sungai yang mengalir menempuh tubuh benua. Begitu ringan langkah kuayun, dilepas tatapan matamu dari ambang pintu setiap pagi. Begitu lekas sore merapat, jiwaku terhisap untuk pulang, dijemput rindu di lereng beranda. Aku abai terhadap apa pun yang terjadi sepanjang siang. Mendulang madu atau racun, menampung susu atau airmata.

Sepanjang Braga

(dimuat dalam Koran Tempo)



PERASAANKU dibungkus kesunyian luar biasa. Dua jam termangu dalam kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat minyak. Ada jendela terbuka ke arah sungai, tempat mengalir udara segar. Termasuk suara belalang dan kerisik bunga rumput. Hanya pada bidang itu, aku tak bisa melukis apa pun. Di seberangnya terdapat langit, yang mudah berubah rona. Hijau daun, merah senja, atau sesekali lintasan burung. Tapi sejak pameran terakhir, jendela itu belum menyumbangkan kegairahan.

Apakah harus menyesal, ketika mendapatkanmu di ruang pameran? Mula-mula yang kulihat adalah punggungmu. Engkau memandang lukisan yang mungkin menyemburkan sejumlah episode masa lalu, tentang hubungan kita yang lebih banyak melalui surat. Separuh dari kenangan itu masih tersimpan, untuk sewaktu-waktu kubaca ulang. Sebagian yang lain menjadi lukisan dalam berbagai ukuran.

"Aku senang kamu sempat datang,"

Kamu menoleh dan memandang dengan rasa bersalah. Seakan-akan perlu undangan resmi, dan ditegur karena berada di tempat yang barangkali mustahil.

Galeri Soemardja memang kecil. Dalam sekejap bisa kulihat semua yang hadir hanya dengan memutar kepala. Mereka bukan orang asing. Beberapa dosen, mahasiswa senirupa, dan kawan-kawan yang selama ini demikian dekat. Sehingga tentu segera kukenali dirimu, bahkan hanya dengan hembusan parfummu. Sesuatu yang tak berubah sejak bertemu muka, sekitar lima atau enam tahun lalu.

"Kau memang tidak mengundangku," katamu, tidak tampak kaget. Kita bergenggaman tangan. Berjuta bingkai diorama berputar. Gambar yang meloncat-loncat. Sejak Braga Permai, Concurrent Jewelery, Kafe Datumuseng, Pantai Losari, Somba Opu, sampai Benteng Fort Rotterdam?

"Padahal, ini hampir semua tentang kamu."

Tukang Cukur

oleh Gus tf Sakai
(dimuat dalam Kompas)



Barangkali memang ada perubahan dalam dirinya. Tapi entahlah. Sebagai seorang tukang cukur, ia hanya berhadapan dengan kerutinan, melakukan hal yang sama setiap hari sampai-sampai ia pernah berpikir hidup ini hanyalah perulangan dan karenanya tak ada yang penting. Heran, bagaimana tiba-tiba dalam dirinya muncul semacam harapan?

Barangkali itu bukan harapan. Barangkali hanya semacam perasaan senang, perasaan suka, seperti yang selama ini selalu ia ciptakan untuk menghilangkan kejemuan setiap tangannya bergerak meluncur turun-naik berulang-ulang menekan kulit dengan pisau cukur yang dimiringkan. Ia nikmati luncuran pisau itu saat tiba di pipi, di dahi, tapi ia akan lebih senang lagi ketika pisau cukur itu tiba di dagu. Dagu yang kokoh. Dagu lelaki. Tak jarang ia tiba-tiba mengangkat wajah, menatap ke cermin, membandingkan dagu yang tengah ia cukur dengan dagunya yang tirus dan halus. Heran, kenapa bisa begitu berbeda?

Tapi itu tak penting. Tapi ia kembali memikirkan dagu itu. Dan lelaki. Lelaki itu. Ia muncul di pintu biasa-biasa saja seperti orang-orang ingin bercukur lainnya melayangkan pandang mencari-cari kursi yang kosong (artinya, mencari tukang cukur yang menganggur) lalu mereka bertatapan dan tiba-tiba dadanya berdebar. Mungkin ia panik. Tapi tidak. Sebagai tukang cukur satu-satunya yang menganggur, ia ingat, saat itu, buru-buru ia tersenyum seraya menggerakkan tangan mempersilakan lelaki itu duduk. Tapi, kapan ia pernah tersenyum kepada seseorang yang ingin bercukur apalagi mempersilakannya duduk?

Ahh, apa salahnya. Setiap tukang cukur biasa ramah kepada orang-orang yang dicukurnya. Tapi ia ingat setelah itu ia membeku, diam seperti batu. Tapi tubuhnya berpeluh. Dingin. Ia berusaha membendungnya, bersikap biasa, tapi tangannya gemetar ketika mulai mencukur muka.

“Anda sakit?”

“Aaa ... tidak.”